Muhammad Iqbal
Corrupt
Practices Investigation Bureau Singapure
Praktik korupsi di
Singapura, seperti pula di Indonesia, diawali dari kalangan birokrat. Para
pejabat hingga pegawai rendahan tak asing dengan praktik-praktik korupsi dalam
segala bentuknya, termasuk suap-menyuap. Akhirnya dibentuklah badan khusus
pemberantasan korupsi yang diambil dari institusi kepolisian yang sayangnya,
badan khusus di lembaga ini pun tidak mampu mengatasi korupsi yang merajalela.
Hal ini dibuktikan dengan tertangkapnya pejabat senior di kepolisian, lantaran
terbukti menerima suap dari pedagang opium, menjadi bukti bahwa intitusi
dipercaya tidak mampu memberantas korupsi. Inilah cikal bakal berdirinya Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB), suatu
lembaga pemberantasan korupsi yang independen yang awalnya merupakan bagian
dari kepolisian, namun kemudian menjadi lembaga sendiri yang independen, khusus
menangani korupsi. Hal ini kurang lebih sama dengan cikal bakal lahirnya KPK di
Indonesia.
Langkah
Pemberantasan
Melihat tingginya risiko
korupsi di negaranya Lee Kwan Yew pun memimpin gerakan pemberantasan korupsi
saat berkuasa sejak 1959. Bahkan dengan menguatnya gerakan People’s Action Party, ia
mengumumkan perang melawan korupsi dengan mengatakan, “no one, not even top government officials
are immuned from investigation and punishment for corruption”.
Hal ini melahirkan
serangkaian undang-undang antikorupsi, seperti Undang-undang
Pencegahan Korupsi (The Prevention of
Corruption Act/ PCA) yang diperbaharui pada tahun 1989 dengan
nama The Corruption (Confiscation of
Benefit) Act dan selanjutnya muncullah CPIB. Sesungguhnya semua usaha Lee
Kwan Yew untuk memberantas korupsi di Singapura tidak akan berhasil apabila
tidak didukung oleh adanya political will dari para birokrat dan dukungan
masyarakat.
Pemberantasan korupsi di
Singapura dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Praktik-praktik
korupsi di birokrasi dari tahun ke tahun semakin terkikis, karena masyarakat
dan pemerintahannya memiliki tekad kuat untuk membangun negara yang bersih dari
segala macam bentuk penyelewengan uang negara. Masyarakat berperan aktif
mengamati segala sesuatu yang mencurigakan, dan kemudian melaporkan jika ada
indikasi penyelewengan, termasuk para pejabat negara yang kehidupannya
di luar kewajaran.
Pemberantasan korupsi oleh
CPIB bisa berhasil juga karena adanya beberapa wewenang yang mendukung mereka
dalam mengungkapkan kasus korupsi. CPIB memiliki enam kewenangan utama yaitu
kewenangan untuk penahanan, penyidikan, khusus penyidikan, penggeledahan,
penuntutan dan perlindungan informan.
Kewenangan
penahanan menyatakan bahwa Direktur
Singapura atau penyidik khusus CPIB Singapura dapat tanpa surat perintah
menangkap atau menahan setiap orang yang melakukan delik menurut Prevention
of Corruption Act atau
mereka yang diadukan atau telah diterima informasi yang dapat dipercaya dengan
dugaan telah melakukan perbuatan tindak pidana korupsi. Selanjutnya tersangka
dapat digeledah dan disita semua benda yang ditemukan padanya. Hal tersebut
dapat dilakukan jika ada alasan untuk dipercayakan sebagai hasil atau bukti dari
kejahatannya, dengan suatu ketentuan bahwa tersangka perempuan hanya dapat
digeledah oleh penyidik khusus perempuan. Tersangka tersebut hanya dapat
dibebaskan dengan jaminan yang diberikan oleh direktur CPIB Singapura, penyidik
khusus CPIB Singapura, atau perwira kepolisian.
Kewenangan
penyidikan memberikan Direktur CPIB
Singapura atau penyidik khusus CPIB Singapura wewenang berkaitan dengan
penyidikan setiap delik berdasarkan Criminal Prosedur Code. Hal ini berarti mereka
dapat dianggap sama dengan perwira polisi pangkat inspektur ke
atas.
Kewenangan
khusus penyidikan berarti ketika
penuntut umum telah menyatakan suatu delik berdasarkan Prevention
of Corruption Act (PCA) telah
dilakukan maka dapat memberi kuasa kepada direktur CPIB Singapura atau setiap
perwira polisi dengan pangkat minimal Assistant Superintendent atau penyidik khusus CPIB
Singapura untuk melakukan penyidikan dengan cara atau modus sesuai dengan yang
tertera dalam surat perintah. Pejabat tersebut dapat menyidik segala rekening
ataupun safe deposit box di
suatu bank disertai kuasa yang cukup untuk mengungkapkannya. Apabila ada pihak
yang menghalangi atau menolak memberikan informasi tersebut akan dikenai
hukuman denda atau kurungan atau keduanya. Hal ini akan meningkatkan efek jera
kepada pihak-pihak pemegang kunci informasi dalam mengungkap kasus korupsi di
Singapura. Semua kegiatan sehubungan dengan kewenangan khusus penyidikan ini
harus tetap sesuai denngan Criminal Prosedur Code.
Kewenangan
penggeledahan diberikan
kepada penyidik khusus CPIB Singapura Singapura atau perwira polisi untuk
memasuki tempat itu dengan paksa jika perlu menggeledah, menyita, dan menahan
dokumen, benda, atau harta benda maksud. Alasan lainnya adalah jika perintah
penggeledahan ditunda maka benda yang digeledah akan hilang. Oleh sebab itu,
penyidi khusus CPIB Singapura atau perwira polisi dapat melaksanakan segala
wewenang tersebut secara penuh dan cukup seperti dia diberi kuasa untuk berbuat
demikian dengan surat perintah.
Kewenangan
penuntutan dan perlindungan informan
meliputi adanya persetujuan untuk melakukan tuntutan sesuai dengan Pasal
33 Prevention of Corruption Act (PCA). Sedangkan untuk
melindungi informan saksi tidak diwajibkan untuk mengungkap nama dan alamat
seorang informan atau memberikan sesuatu pernyataan yang dapat menjurus kepada
ditemukannya informan tersebut. Hal ini juga terjadi di negara kita melalui
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.
Hong Kong Independent Commission Against
Corruption
Komisi Pemberantasan Korupsi Hong Kong
atau Hong Kong Independent Commission Against Corruption (ICAC) disebut-sebut
sebagai lembaga tersukses di dunia memberantas korupsi. Tony Kwok, Deputi
Komisioner dan Kepala Operasi ICAC sepanjang 1996-2002, mengakui bahwa
lembaganya itu gigih berhadapan dengan korupsi.
ICAC didirikan tahun 1974, saat korupsi di Hong Kong demikian masif. Saat itu, bisa jadi Hong Kong adalah kota terkorup di dunia. Demikian masifnya, di Hong Kong ada hubungan yang erat antara aparat penegak hukum dengan sindikat kejahatan terorganisasi. Sebut saja perjudian dan narkoba yang saat itu mendapat perlindungan dari oknum-oknum penegak hukum.
Saat ICAC dibentuk, hanya sedikit yang optimis lembaga ini bisa membawa perubahan. Kebanyak menilai sebagai “Mission Impossible”. Namun, dalam waktu tiga tahun, ICAC sukses menghukum 247 pejabat pemerintah, termasuk 143 polisi. Dalam Millenium Survey teranyar, pendirian ICAC menempati posisi ke-6 peristiwa terpenting sepanjang 150 tahun sejarah Hong Kong.
Ada lima faktor yang bisa mendorong ICAC sukses memberantas korupsi, yaitu :
ICAC didirikan tahun 1974, saat korupsi di Hong Kong demikian masif. Saat itu, bisa jadi Hong Kong adalah kota terkorup di dunia. Demikian masifnya, di Hong Kong ada hubungan yang erat antara aparat penegak hukum dengan sindikat kejahatan terorganisasi. Sebut saja perjudian dan narkoba yang saat itu mendapat perlindungan dari oknum-oknum penegak hukum.
Saat ICAC dibentuk, hanya sedikit yang optimis lembaga ini bisa membawa perubahan. Kebanyak menilai sebagai “Mission Impossible”. Namun, dalam waktu tiga tahun, ICAC sukses menghukum 247 pejabat pemerintah, termasuk 143 polisi. Dalam Millenium Survey teranyar, pendirian ICAC menempati posisi ke-6 peristiwa terpenting sepanjang 150 tahun sejarah Hong Kong.
Ada lima faktor yang bisa mendorong ICAC sukses memberantas korupsi, yaitu :
Pertama, ICAC independen dan langsung
bertanggung jawab kepada posisi tertinggi di Hong Kong. Hal ini memastikan
mereka bebas intervensi saat melakukan investigasi. Dengan demikian, lembaga
itu bisa menginvestigasi orang atau lembaga tanpa kecurigaan dan rasa takut.
Kedua, ICAC mendapat sokongan finansial
yang kuat. Anggaran tahunan bisa mencapai AS$90 miliar, sekitar AS$15 per
kapita. Mungkin hanya ICAC komisi pemberantasan korupsi yang anggarannya paling
besar di dunia ini.
Ketiga, mereka memiliki kewenangan yang
luar biasa luas untuk melakukan investigasi. ICAC tak hanya bisa melakukan
penyelidikan tindak pidana korupsi yang dilakukan di lembaga negara dan swasta.
Akan tetapi, juga bisa menyelidiki semua tindak pidana yang berkaitan dengan
korupsi. ICAC berwenang untuk melakukan penyelidikan akun bank, bisa meminta
saksi memberi keterangan di bawah sumpah, menyita harta tersangka yang berasal
dari tindak pidana korupsi, sampai mencekal tersangka.
Faktor keempat adalah profesionalitas.
ICAC merupakan lembaga yang pertama kali melakukan interview semua tersangka
yang terdokumentasi dalam video. ICAC mengatakan, setidaknya ada 120 orang yang
bekerja dengan terlebih dulu mengikuti pelatihan khusus. ICAC mempunyai
sejumlah ahli terkait perlindungan saksi, forensik teknologi, dan penyelidikan
keuangan. Saya perlu sampaikan, ahli-ahli kami mendapat training dari FBI
National Academy.
Tak kalah pentingnya, adalah faktor
kelima yang ia sebut “tiga-mata garpu”. Ketiganya adalah investigasi,
pencegahan, dan pendidikan. Ia mengingatkan, pendidikan merupakan kunci penting
agar publik bisa ikut berpartisipasi melawan korupsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar